Selasa, 22 November 2011
Cabang Olahraga Baru Seagame 2011
Di antara cabang olahraga baru di arena SEA games tersebut adalah cabang olahraga Vovinam, olahraga bela diri khas dari Vietnam. Vovinam adalah bela diri yang berasal dari Vietnam dan baru pertama kali dipertandingkan dalam SEA Games XXVI 2011. Olahraga bela diri ini menggabungkan ketegasan pencak silat dan kelembutan wushu. Bali menjadi sentra olahrag di Indonesia karena menjadi tempat awal berkembangnya vovinam. Cabang olahraga yang dipertandingkan hanya tiga hari dari tanggal 14 sampai 16 November itu menyediakan 14 medali emas. Tempatnya di GOR Tanjung Priok Sport Hall, Jakarta Utara. Total atlet yang berlaga dari cabang ini adalah sebanyak 27 orang, yang terdiri dari 9 putri dan 18 putra. Saingan terberat kontingen Indonesia dalam cabang ini adalah Vietnam yang merupakan negara asal bela diri tersebut. Ada dua nomor yang dipertandingkan di olahraga ini, yaitu nomor seni pementasan (art/performance) dan kategori pertandingan.
Pada dasarnya ada kemiripan antara Vovinam dengan cabang olahraga silat, yang merupakan bela diri khas Indonesia. Sehingga, semua atlet Vovinam Indonesia punya keahlian pencak silat. Atlet pelatnas vovinam rata-rata berasal dari cabang pencak silat. Oleh sebab itu, mereka tidak mengambil kuda-kuda untuk melindungi kepala karena di pencak silat dilarang mengenai kepala. Sebaliknya di cabang vovinam, apabila mengenai kepala lawan justru mendapat poin. Di kejuaraan Laos Asian Indoor Games in 2009, Indonesia berhasil meraih dua mendali emas. Selain itu, di ajang kejuaraan yang digelar di Kamboja, Indonesia meraih lima medali emas. Pengalaman itu menjadi modal berharga untuk menatap persaingan perebutan medali cabang vovinam di arena SEA Games 2011.
Pada Sea Games 2011, Indonesia menurunkan 27 atlet, diantaranya 9 putri dan 28 putera. Dalam SEA GAMES ini, peserta cabang olahraga Vovinam hanya diikuti empat negara yakni, Laos, Vietnam, Kamboja dan Indonesia. Lawan terberat Indonesia yaitu Vietnam yang merupakan olahraga asal Vovinam itu sendiri. Atlet vovinam Indonesia akan menghadapi lawan kuat dari negara yang lebih dulu mengenal vovinam, bela diri asli Vietnam, seperti Laos, Kamboja, Thailand, dan Filipina. Indonesia pertama kali mengikuti vovinam dalam ASEAN Indoor Games 2009. Atlet Indonesia meraih dua medali emas dan lima perunggu.
Sebelumnya kontingen Indonesia berjaya dalam Kejuaraan tingkat Asia Tenggara yang digelar di Pnomh Penh, Kamboja dari 13-17 Oktober. Mereka pulang dengan titel juara ke dua di bawah Vietnam yang menjadi asal olah raga beladiri tersebut. Indonesia mendapatkan lima medali emas, lima medali perak dan tujuh medali perunggu. Vietnam sebagai juara pertama meraih sembilan medali emas dan 10 medali perak. Lima medali emas itu berasal dari nomor performance single woman oleh Kadek Wulandari, woman weapon double oleh Luh Gede Arista Dewi dan Ni Made Ratna Dewi, men weapon double oleh I Kadek Ari Sutara dan Putu Ruwita, women defense oleh Eni Kusmayanti dan Sulendra, dan men multi weapon oleh Ari Wirawan, Wisnu Atmadi Sudewa, Suryawan, dan Tomi Sunjaya.
Kesulitan masih dialami di nomor pertandingan (battle), karena teknik dalam serangan memakai kaki agak berbeda dengan silat. Tendangannya lebih mengarah ke leher atau bagian atas. Teknik dasar dari Vovinam meliputi pukulan tangan (dong tay), sikut (cho), dan tendangan (da). Jurus yang terkenal dan cukup sulit dilakukan adalah guntingan kaki di leher lawan (Don Chan Tan Cong so 12). Berbeda dengan Pencak Silat, dalam Vovinam serangan di kepala lawan legal dan mendapatkan poin.
SEJARAHPERKEMBANGAN PENCAK SILAT
Abstrak
Pencak silat merupakan warisan budaya bangsa Indonesia yang sudah tumbuh dan berkembang ke manca negara. Walau sejarah tidak bisa menunjukkan secara pasti kapan lahirnya pencak silat, namun pencak silat sudah lahir di bumi pertiwi sejak peradaban manusia. Sejak jaman pra sejarah sudah lahir ilmu beladiri yang sederhana guna mempertahankan hidup dari ganasnya alam.
Pada jaman kerajaan-kerajaan beladiri berkembang sebagai alat berkuasa, baik mempertahankan kerajaannya maupun untuk menyerang lawan. Tahun 1019-1041 istilah pencak silat mulai muncul sejak kerajaan Kahuripan dengan nama “Eh Hok Hik”. Pada jaman penjajahan peran pencak silat sangat besar dalam membantu pertahanan negara untuk mengusir penjajah.
Pertumbuhan dan perkembangan pencak silat pada jaman kemerdekaan amat pesat, dengan terbentuknya wadah organisasi Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) tahun 1948. Pada tanggal 11 Maret 1980 IPSI didukung tiga negara Malaysia, Singapura, dan Brunai Darusalam membentuk Federasi Pencak Silat Internasional disebut PERSILAT (Persekutuan Pencak Silat Antara Bangsa), dan tahun 1987 untuk pertama kali pencak silat secara resmi masuk Sea Games XIV. Keberhasilan pencak silat menjadi cabang olahraga di Sea Games, memacu PB IPSI untuk melakukan eksibisi di Asian Games XIV Busan Korea Selatan. Tidak hanya berhenti disitu saja pencak silat telah mengadakan Kejuaraan Dunia ke-11 kali, dan perkembangan terakhir anggota PERSILAT mencapai 46 negara yang tersebar di benua Asia, Eropa, Australia, Amerika, dan Amerika.
Kata-kata kunci: pencak silat, go internasional
Pencak silat merupakan warisan asli budaya bangsa Indonesia, yang terdiri dari berbagai perguruan/aliran pencak silat. Sejarah lahirnya pencak silat tidak diketahui secara pasti, namun beladiri pencak silat dimungkinkan sudah ada di tanah air sejak peradaban manusia di Indonesia.
Menurut Notosoejitno (1999: 4-6) perkembangan sejarah pencak silat dapat di bagi menjadi dua jaman, yang terdiri dari:
1. Jaman Pra Sejarah
2. Jaman Sejarah, di bagi menjadi lima yaitu: (a) Jaman Kerajaan-Kerajaan, (b) Jaman Kerajaan Islam, (c) Jaman Penjajahan Belanda, (d) Jaman Penjajahan Jepang, dan (e) Jaman Kemerdekaan
Pada jaman pra sejarah belum ada istilah pencak silat, namun pada jaman ini manusia purba sudah mengenal pembelaan diri dalam arti untuk mempertahankan hidup. Hal ini sangat dibutuhkan mereka karena pada jaman itu manusia dapat bertahan hidup bila mereka dapat mengatasi rintangan-rintangan alam yang ganas, hidup di hutan belantara dan selalu berhadapan dengan berbagai binatang besar yang buas. Tantangan yang paling berbahaya tersebut adalah serangan dari binatang buas yang hidup di hutan-hutan.
Ganasnya alam yang menatang pada saat itu, memaksa mereka harus membela diri dengan tangan kosong dan perlengkapan yang sederhana. Perjuangan hidup tersebut membuat mereka dapat bertahan untuk hidup. Lahirnya beladiri pada saat itu belum ada nama, namun itu merupakan naluri mereka untuk bertahan hidup.
JAMAN KERAJAAN-KERAJAAN
Perkembangan jaman terus berputar, maka muncullah ilmu beladiri yang bertujuan untuk mempertahankan kekuasaan maupun daerah pada saat jaman kerajaan-kerajaan baik di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, sampai dengan daerah Semenanjung Melayu. Mereka menciptakan bela diri (jurus-jurus) dengan meniru gerakan binatang yang berada di lingkungan alam sekitarnya.
Gerakan-gerakan yang diciptakan juga disesuaikan dengan alam sekitarnya yang berbukit-bukit, dan berbatuan. Misalnya jurus yang diciptakan meniru gerakan harimau, kera, ular, dan burung. Oleh karena kondisi lingkungan yang berbukit dan berbatuan, maka gerakannya banyak lompatan/ loncatan. Orang-orang yang hidup di pegunungan biasa berdiri, bergerak, berjalan dengan langkah kedudukan kaki yang kuat untuk menjaga agar tidak mudah jatuh selama bergerak di tanah yang tidak rata. Biasanya menciptakan beladiri yang mempunyai ciri khas kuda-kuda yang kokoh tidak banyak bergerak. Sedangkan gerakan tangan lebih lincah, banyak ragamnya dan ampuh daya gunanya.
Penduduk yang hidup di daerah berawa, tanah datar, padang rumput biasa berjalan bergegas, lari, sehingga gerakan kakinya menjadi lincah. Mereka menciptakan beladiri yang lebih banyak memanfaatkan kaki sebagai alat beladiri. Akhirnya setiap daerah mempunyai beladiri yang khas dan berbeda dengan daerah lainnya, sehingga timbullah aliran beladiri beraneka ragam.
Pada jaman kerajaan beladiri sudah di kenal untuk keamanan serta untuk memperluas wilayah kerajaan dalam melawan kerajaan yang lainnya. Pada jaman ini kerajaan yang mempunyai prajurit kuat dan tangguh, maka mereka mempunyai wilayah jajahan yang luas. Prajurit yang mempunyai ilmu beladiri tinggi maka ia akan mendapat jabatan yang tinggi pula ( patih ).
Kerajaan-kerajaan pada waktu itu seperti: Kerajaan Kutai, Tarumanegara, Mataram, Kediri, Singasari, Sriwijaya, dan Majapahit mempunyai prajurit yang dibekali ilmu beladiri untuk mempertahankan wilayahnya.
Bahkan dua Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit keduanya mempunyai pasukan kuat beserta armada lautnya sehingga terkenal sampai keluar wilayah nusantara. Tahun 671 Kerajaan Sriwijaya mengembangkan wilayahnya sampai ke Melayu, tetapi setelah menurunnya kekuasaan kerajaan Sriwijaya pada abad 7-12, maka mulai abad 13 muncullah kerajaan islam Samudra Pasai (Notosoejitno, 1999: 15). Abad 16 Samudra Pasai mencapai puncaknya sampai ke Malaka, namun demikian istilah beladiri pencak silat belum ada.
Baru tahun 1019-1041 pada jaman kerajaan Kahuripan yang dipimpin oleh Prabu Erlangga dari Sidoarjo, sudah mengenal ilmu beladiri pencak dengan nama “Eh Hok Hik”, yang artinya “Maju Selangkah Memukul” (Notosoejitno, 1999: 15). Prabu Erlangga ini merupakan pendekar ulung yang mempunyai ilmu beladiri yang tinggi, oleh karenanya raja, bangsawan, kesatria, prajurit pada waktu itu wajib belajar beladiri. Pada saat itu prajurit yang memiiliki ilmu beladiri tinggi, maka semakin tinggi pula kedudukannya.
JAMAN KERAJAAN ISLAM
Pada jaman kerajaan Islam perdagangan dan pelayaran internasional sudah berlangsung sehingga para pedagang dan saudagar dari negara-negara Arab, Cina, serta Asia Timur banyak berdatangan di Indonesia. Mereka selain berdagang juga pertukaran kebudayaan sehingga memungkinkan pencak silat sebagai budaya bangsa kita dibawa ke luar negeri, namun demikian juga terjadi asimilasi beladiri yang dibawa oleh para saudagar.
Perdagangan dan pelayaran internasional ini sudah dilakukan sejak kerajaan islam yang dipimpin oleh Bani Umayah, dengan Asia Timur pada Dinasti Tang dari Cina. Bahkan pada jaman kerajaan Sriwijaya wilayah perdagangannya selain di negara-negara Asia Tenggara sampai ke Asia Timur.
Beberapa deretan pendekar dan pahlawan yang mahir pencak silat adalah ; Patih Gajah Mada, Para Wali Songo (Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ngampel, Sunan Bonang, Sunan Drajad, Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati). Adapun para raja yang tangguh adalah: Panembahan Senopati, Sultan Agung, Pangeran Diponegoro, Cik Ditiro, Teuku Umar, dan Imam Bonjol. Sedang pendekar wanitanya adalah: Sabai Nan Putih, dan Cut Nyak Din.
JAMAN PENJAJAHAN
Pada jaman penjajahan pencak silat dipelajari oleh punggawa kerajaan, kesultanan, dan para pejuang untuk menghadapi penjajah. Perkembangan sejarah pencak silat pada jaman penjajahan di bagi menjadi dua, yaitu:
1. Jaman Penjajahan Belanda
2. Jaman Penjajahan Jepang
Pada jaman penjajahan Belanda pencak silat diajarkan secara rahasia dan sembunyi-sembunyi, karena takut diketahui oleh penjajah. Kaum penjajah khawatir bila kemahiran pencak silat tersebut akhirnya digunakan untuk melawan mereka. Kekhawatiran itu memang beralasan, karena hampir semua pahlawan bangsa seperti: Cik Ditiro, Imam Bonjol, Fatahillah, Pangeran Diponegoro, adalah pendekar silat. Oleh karena itu banyak perguruan-perguruan pencak silat yang tumbuh tanpa diketahui oleh penjajah, bahkan sebagian menjadi perkumpulan rahasia.
Notosoejitno (2001: 1) menyatakan bahwa dilihat dari sosok, profil atau tampilan pencak silat di Indonesia ada tiga, yaitu:
1. Pencak silat asli (original), ialah pencak silat yang berasal dari lokal dan masyarakat etnis di Indonesia.
2. Pencak silat bukan asli yang sebagian besar berasal dari Kung Fu, Karate dan Jujitsu.
3. Pencak silat campuran, ialah campuran antara pencak silat asli dan bukan asli (beladiri asing). Pencak silat bukan asli adalah beladiri dari asing yang ingin bergabung dengan nama pencak silat termasuk peraturan AD dan ART disesuaikan dengan IPSI.
Pencak silat juga dipelajari oleh banyak kaum pergerakan politik termasuk beberapa organisasi kepanduan nasional. Dengan diam-diam perguruan pencak silat berhasil memupuk kekuatan yang siap untuk melawan penjajah sewaktu-waktu. Bagi kaum pergerakan yang ditangkap oleh penjajah dan dibuang secara diam-diam, mereka menyebarkan beladiri pencak silat di tempat pembuangan. Namun penjajah Belanda mempunyai politik yang ampuh dalam memecah belah antar suku bangsa atau aliran pencak silat (devide et impera ).
Lain halnya pada penjajahan Jepang pencak silat dibebaskan untuk berkembang, namun dibalik itu dimanfaatkan demi kepentingan Jepang untuk menghadapi sekutu. Bahkan anjuran Shimitzu diadakan pemusatan tenaga aliran pencak silat di seluruh Jawa secara serentak yang diatur oleh pemerintah di Jakarta. Namun pada waktu itu tidak disetujui diciptakannya pencak silat olahraga yang diusulkan oleh para pembina pencak silat untuk senam pagi di sekolah-sekolah. Hal ini disebabkan akan menyaingi senam Taisho Jepang yang dipakai senam setiap pagi hari.
JAMAN KEMERDEKAAN
Sebelum Indonesia merdeka pencak silat ikut andil dalam perjuangan bangsa dalam melawan penjajah baik Belanda maupun penjajah Jepang. Hal ini dibuktikan pada masa penjajahan sudah banyak bermunculan nama-nama perguruan/aliran pencak silat yang bertujuan untuk membekali pejuang dalam melawan penjajah.
Kemahiran ilmu beladiri pencak silat ini terus dipupuk guna melawan penjajah secara gerilya pada jaman kemerdekaan. Perguruan-perguruan pencak silat pada waktu itu sibuk untuk menggembleng tentara dan rakyat, di samping itu pesantren-pesantren, gereja-gereja, dan tempat-tempat ibadah selain untuk beribadah juga digunakan untuk latihan beladiri pencak silat. Sebagai contoh perang fisik bulan Nopember tahun 1945 di Surabaya dalam melawan sekutu, banyak menampilkan pejuang yang gagah perwira dari Pondok Pesantren Tebu Ireng, Gontor, dan Jamsaren (Atok Iskandar, 1999: 12).
Dari hasil yang diperoleh para pemimpin bangsa dan para pendekar pada waktu itu menyadari bahwa pelajaran pencak silat berhasil memupuk semangat juang dan menggalang persaudaraan yang erat. Oleh karena itu setelah proklamasi kemerdekaan tahun 1945 dimana Belanda melancarkan lagi agresinya dua kali, maka pencak silat dimanfaatkan lagi secara maksimal guna menghadapi serangan Belanda.
Pada masa pemberontakan politik PKI Madiun, dan Darul Islam atau DI/TII, kemahiran beladiri pencak silat digunakan lagi dengan strategi Pagar Betis, yaitu pengepungan pemberontak oleh para tentara bersama rakyat yang telah dibekali ilmu beladiri. Pada jaman kemerdekaan ini perkembangan pencak silat dibagi menjadi lima periode yang meliputi : (1) Periode Perintisan, (2) Periode Konsolidasi dan Pemantapan, (3) Periode Pengembangan, dan (4) Periode Pembinaan.
1. Periode Perintisan (tahun 1948-1955)
Pada periode ini adalah perintisan berdirinya organisasi pencak silat yang bertujuan untuk menampung perguruan-perguruan pencak silat. Pada tanggal 18 Mei tahun 1948 di Solo (menjelang PON I), para pendekar berkumpul dan membentuk Organisasi Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSSI). Ketua umum pertama IPSSI adalah Wongsonegoro. Kemudian tahun 1950 kongres I di Yogyakarta salah satunya mengubah naman IPSSI menjadi IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), yang dimaksud untuk menggalang kembali semangat juang bangsa Indonesia dalam pembangunan (Sukowinadi, 1989: 7). Selain itu IPSI mempunyai tujuan persaudaraan yang dapat memupuk persaudaraan dan kesatuan bangsa Indonesia sehingga tidak mudah dipecah belah.
Sepuluh perguruan historis yang mendirikan IPSI adalah: Putra Betawi, PPSI, Setia Hati, Setia Hati Terate, Perisai Diri, Perisai Putih, Tapak Suci, Perphi Harimurti, Phasaja Mataram, dan Nusantara.
Tahun 1948 sejak berdirinya PORI (Persatuan Olahraga Indonesia) yaitu wadah induk-induk organisasi olahraga, IPSI sudah menjadi anggota. IPSI juga ikut aktif mendirikan KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia). Pada PON I dan II cabang pencak silat belum dipertandingkan, tetapi hanya untuk demonstrasi.
2. Periode Konsolidasi dan Pemantapan (tahun 1955-1973)
Setelah terbentuknya organisasi pencak silat, maka IPSI mengkonsolidasikan kepada anggota-anggota perguruan pencak silat di seluruh Indonesia. Untuk pemantapan program sehingga pencak silat selain sebagai beladiri juga dapat dipakai olahraga, maka dibuatlah peraturan pertandingan pencak silat. Sebelum dibuat peraturan pertandingan pencak silat pada PON III bersifat eksibisi, tanpa diperhitungkan medalinya. Dengan terbentuknya peraturan tersebut maka pada PON VIII pencak silat untuk pertama kali dipertandingkan dan telah diikuti 15 daerah.
3. Periode Pengembangan (tahun 1973-1980)
Setelah Wongsonegoro ketua IPSI tahun 1973-1977 dipimpin oleh Tjokropranolo (wakil gubernur DKI Jaya). Pada periode ini pencak silat dikembangkan dengan mengadakan seminar pencak silat yang pertama di Tugu Bogor (tahun 1973).
Pengembangan pencak silat pada periode ini tidak hanya di dalam negeri saja, tetapi ke luar negeri, yaitu eksibisi ke Belanda, Jerman, Australia, dan Amerika. Pada tanggal 22-23 September tahun 1979 berlangsung Konverensi Federasi Pencak Silat Internasional yang dihadiri oleh negara Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam, dan Indonesia sebagai tuan rumah.
Pada tanggal 7-11 Maret 1980 di Jakarta ketua umum Ikatan Pencak Silat Indonesia bapak H. Eddy Marzuki Nalapraya bersama wakill-wakil negara Singapura, Malaysia, dan Brunai Darusalam mendirikan Federasi Internasional Pencak Silat yang dinamakan Persilat (Persekutuan Pencak Silat antara Bangsa). Presiden Persilat I bapak H. Eddy Marzuki Nalapraya, menjabat sampai dengan tahun 2002.
Dengan terbentuknya Persilat, maka perkembangan pencak silat lambat laun sampai ke beberapa negara. Kejuaraan tingkat internasional yang pertama adalah dengan diadakannya Invitasi Pencak Silat Internasional I tahun 1982 di Jakarta. Perkembangan berikutnya hingga saat ini telah dilaksanakan kejuaraan dunia sebanyak sebelas kali.
Tabel 1. Invitasi dan Kejuaraan Dunia Pencak Silat
No. Tahun Tempat Negara Peserta
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11. 1982
1984
1986
1987
1988
1990
1992
1994
1997
2000
2002 Jakarta
Jakarta
Sudstadt (Austria)
Kuala Lumpur
Singapura
Den Haag (Belanda)
Jakarta
Hatjai (Thailand)
Kuala Lumpur
Jakarta
Kuala Lumpur 8 Negara
9 Negara
12 Negara
21 Negara
21 Negara
21 Negara
20 Negara
20 Negara
20 Negara
22 Negara
20 Negara
Sumber: Pondok Pustaka PB IPSI (2000: 27)
Sejak tahun 1992 nama Invitasi Pencak Silat diganti dengan Kejuaraan Dunia Pencak Silat yang pertama kali di Jakarta diikuti oleh 20 negara peserta. Dewasa ini PERSILAT telah berhasil menghimpun 46 negara anggota yang tersebar di kawasan Asia, Eropa, Autralia dan Oceania, Timur Tengah dan Afrika, serta Amerika (Oyong Karmayuda, 2001: 26). Berikut nama-nama resmi organisasi 31 negara anggota PERSILAT.
Tabel 2. Nama Organisasi Negara Anggota PERSILAT
No. Negara Nama Organisasi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31. Benua Asia :
Indonesia
Singapura
Brunai Darusalam
Malaysia
Thailand
Vietnam
Philipina
Myanmar
Laos
Jepang
Benua Eropa:
Belanda
Jerman
Austria
Perancis
Swiss
Belgium
Spanyol
Norwegia
Italia
Denmark
Yunani
England
Autralia dan Oceania:
Australia
New Caledonia
Timur Tengah dan Afrika:
Palestina
Turki
Maroko
Arab Saudi
Amerika:
Amerika
Suriname
Canada
: Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI)
: Persekutuan Silat Singapura (PERSISI)
: Persekutuan Pencak Silat Kebangsaan Brunai (PERSIB)
: Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia (PESAKA)
: Pencak Silat Association Thailand (PSAT)
: Ikatan Pencak Silat Vietnam (ISAVIE)
: Philippine Pencak Silat Association (PHISILAT)
: Myanmar Pencak silat Association (MPSA)
: Pencak Silat Laos (PSL)
: Japan Pencak Silat Assotiation (JAPSA)
: Netderlandse Pencak Silat Bond (NPSB)
: Pencak Silat Union Deutschland (PSUD)
: Pencak Silat Verband Osterreich (PSVO)
: France Pencak Silat Federation (FPSF)
: Assotiation Pencak Silat Switzerland PSHT)
: Belgium Pencak Silat Bond (BPSB)
: Spanish Pencak Silat Federation (ESPS)
: Pencak Silat Norwegia (PSN)
: (PISI)
: Pencak Silat Denmark(PSD)
: PSG
: Pencak Silat Federation of United Kingdom
: (WAPSA)
: Merpati Putih New Caledonia (MPNC)
: Pencak Silat Palestina (PSP)
: Pencak Silat of Turkey (PST)
: Pencak Silat Maroko (PSM)
: Pencak Silat Arab Saudie (PSAS)
: Pencak Silat of USA (PS-USA)
: Suriname Pencak Silat Associatie (SPSA)
: Pencak Silat Canada (PSC)
Sumber: Pondok Pustaka PB IPSI (2000: 30)
4. Periode Pembinaan (tahun 1980 sampai sekarang)
Pencak silat yang sudah berkembang di negara-negara Asia, Eropa, Australia, Timur Tengah dan Afrika, serta Amerika, oleh karena itu PB IPSI secara terus menerus melakukan pembinaan. Untuk melangsungkan pembinaan tersebut, maka PB IPSI mengawali pembinaan dengan pesta pencak silat tiga negara tanggal 25-26 April 1980, yang diikuti oleh negara; Indonesia, Malaysia, dan Singapura sebagai tuan rumah.
Pada tanggal 6-8 Aguastus 1982 di Jakarta diadakan Invitasi pertama pencak silat, diikuti oleh negara; Belanda, Singapura, Malaysia, Jerman Barat, Amerika, Australia, dan Indonesia.
Sidang umum I Persilat tanggal 6-10 Juli 1985 di Indonesia, terpilih sebagai presiden Persilat adalah bapak Eddy M. Nalapraya dari Indonesia. Sejak itu Persilat merintis pencak silat untuk dapat masuk pada even bergengsi Sea Games, oleh karena itu membina negara-negara Asia Tenggara untuk ikut menjadi anggota Persilat dan mendukung sebagai olahraga resmi yang dipertandingkan di Sea Games.
Tahun 1987 pencak silat berhasil masuk pertama kali dalam pekan olahraga Asia Tenggara (Sea Games XIV di Jakarta), yang diikuti oleh lima negara yaitu; Malaysia, Singapura, Brunai Darusalam, Thailand, dan Indonesia. Hingga saat kini pencak silat telah resmi dipertandingkan di even Sea Games sebanyak delapan kali (terakhir tahun 2001).
Tabel 3. Sea Games Pencak Silat
No. Tahun Sea Games Tempat Negara Peserta
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9. 1987 Sea games XIV
1989 Sea games XV
1991 Sea games XVI
1993 Sea games XVII
1995 Sea games XVIII
1997 Sea games XIX
1999 Sea games XX
2001 Sea games XXI
2003 Sea ganes XXII Jakarta
Kuala Lumpur
Filipina
Singapura
Chiang May (Thailand)
Jakarta
Brunai Darusalam
Kuala Lumpur
Vietnam 5 Negara
5 Negara
Ekshibisi *)
8 Negara
8 Negara
9 Negara
9 Negara
9 Negara
9 Negara
Sumber: Pondok Pustaka PB IPSI (2000: 29)
*) Organisasi nasional Pencak Silat di Filipina belum ada, sehingga panitia belum mampu menyelenggarakan pertandingan.
PENGEMBANGAN PENCAK SILAT DI PERGURUAN TINGGI ASIAN
Mahasiswa sebagai barisan terdepan intelektual muda, sangat menentukan terhadap perkembangan suatu negara. Maju-mundurnya negara dalam berbagai aspek sangat ditentukan mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa. Dalam bidang budaya dan olahraga, peran mahasiswa sangat besar. Hal ini terbukti bahwa sebagian besar (80%) pesilat daerah atau nasional berstatus mahasiswa.
Pengenalan terhadap pencak silat berlanjut tidak hanya dari aspek olahraga, tetapi minat dan kecintaan tersebut berkembang pada aspek lainnya seperti seni beladiri. Untuk itu PB IPSI terbuka menerima mahasiswa dari berbagai negara dalam upaya pemasalan pencak silat. Mahasiswa yang sedang melakukan penelitian di Indonesia antara lain; Hiltrud Cordes dari Universitas Koln Jerman Barat yang telah menjembatani budaya timur dan barat, selain itu beberapa mahasiswa dari negara Spanyol, Austria, dan Belgia belajar di Perguruan Tinggi Borneo.
Keberadaan pencak silat di University of Chulalongkom Pattani Thailand adalah sebagai basis kegiatan. Demikian juga University of Philiphines di Filipina adalah sebagai tulang punggung tim pencak silat pada setiap kejuaraan. Dan yang paling konsisten membina pencak silat menjadi olahraga prioritas adalah Vietnam. Kejayaan Vietnam sebagai negara pendatang baru pada Sea Games 1999, Kejuaraan Asia Pasifik 2001, dan Kejuaraan Dunia 2002 karena didukung kompetisi antar sekolah dan perguruan tinggi yang ajeg (Oong Maryono, 2003: 23).
Di Indonesia pencak silat merupakan salah satu cabang olahraga yang wajib dipertandingkan dalam Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS). Hal ini merupakan kebanggaan para mahasiswa dalam puncak prestasi olahraga pencak silat di perguruan tinggi. Namun dibalik itu pesilat-pesilat yang telah meraih juara tersebut belum bisa meneruskan prestasinya di tingkat Asean, karena cabang pencak silat belum dipertandingkan di tingkat perguruan tinggi Asean.
Belum maksimalnya pembinaan pencak silat di kalangan perguruan tinggi negara Asean, merupakan tantangan organisasi pencak silat dan instansi kemahasiswaan di negara bersangkutan. Untuk mengantisipasi masuknya cabang pencak silat di pekan olahraga Asean, maka pada tahun 1993 PERSILAT menyelenggarakan pertandingan pencak silat antar perguruan tinggi kawasan Asianoleh STEKPI.
Prakarsa STEKPI ditindak lanjuti koordinasi penyelenggaraan kegiatan pencak silat di kalangan perguruan tinggi tiap negara Asianyang disusun secara terarah dan terpadu antara PERSILAT (IPSI, PESAKA,PERSISI, PERSIB, PSAT, PHILSILAT dll.), organisasi keolahragaan mahasiswa nasional (seperti BAPOMI), dan regional Asean, serta instansi olahraga yang berwenang.
Bila koordinasi ini dapat terwujud, maka program penyelenggaraan pencak silat di kalangan perguruan tinggi Asiandapat terlaksana. Melalui koordinasi tersebut dapat ditingkatkan peran serta mahasiswa dalam upaya pembinaan dan pengembangan pencak silat sesuai dengan nilai intelektual mahasiswa.
PENGEMBANGAN PENCAK SILAT KE ASIANGAMES
Perkembangan pencak silat menuju Asian Gemes, memerlukan perjuangan panjang dan melelahkan. Sejak Asian Games yang ke XIII tahun 1998 di Bangkok Thailand pencak silat telah diperjuangkan untuk dipertandingkan dan disetujui oleh anggota PERSILAT Asia Tenggara. Perjalanan eksebisi menuju Busan Korea Selatan, maka pencak silat harus ditinjau terlebih dahulu oleh Komite Olahraga Asia (Olympic Committee of Asia) yaitu pada saat Pekan Olahraga Nasional di Jawa Timur tentang teknis penyelenggaraan pertandingan, peraturan, perwasitan, untuk dapat diterima di Asian Games.
Menurut Oyong Karmayuda (2000: 3) menyebutkan bahwa pencak silat masuk Asian Games selain sudah mendapat dukungan negara Asia Tenggara, tiga negara Asia Timur (Jepang, Korsel, dan Cina) PERSILAT juga mendapat dukungan dari negara Timur Tengah (Palestina, Turki, Maroko, dan Arab Saudi).
Setelah tiga kali usulan eksibisi pencak silat di Asian Games ditolak, maka Presiden Federasi Pencak Silat Asia beserta Delegasi KONI pusat di bantu oleh Duta Besar RI di KBRI Seoul bertemu dengan penyelenggara Asian Games XIV 2002 Busan (BAGOC). Pertemuan panjang itu akhirnya membuahkan hasil diterimanya cabang pencak silat untuk eksibisi di Asian Games XIV Busan dengan ketentuan semua biaya ditanggung PERSILAT. Perjuangan menuju Busan masih panjang karena biaya penyelenggaraan dari akomodasi, transportasi, alat fasilitas, termasuk honorarium harus ditanggung oleh PERSILAT yang akhirnya dibiayai oleh sponsor utama Nasional Gobel.
Dengan dipertandingkannya pencak silat di Asian Games XIV Busan Korea Selatan yang bersifat bukan demonstrasi maupun eksibisi, namun sebagai kegiatan budaya (sport cultural event). Hal ini sangat bermanfaat sebagai upaya untuk mengangkat olahraga tradisi bangsa Indonesia ini ke ajang internasional. Keberhasilan ini berkat dukungan Komite Olahraga Nasional dari Korea Selatan.
Perjuangan pencak silat ke Asian Games masih panjang, karena keberadaan pencak silat di Busan sebagai bagian dari promosi yang harus dipersiapkan secara matang. Persiapan Asian Games XV 2006 di Qatar, PERSILAT harus mempersiapkan langkah-langkah strategis dengan mengundang negara-negara Asia untuk berlatih di Padepokan Pencak Silat dan mengirimkan tenaga pelatih yang kualified ke negara anggota baru. Pendekatan ini secara perlahan akan mengundang simpatik negara anggota PERSILAT untuk mendukung diselenggarakannya pencak silat di Asian Games XV 2006.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (2000) . Gema Pencak Silat. Jakarta: Pondok Pustaka.
---------. (2000). Pencak Silat World Championship 2000. Jakarta: Humas PB IPSI.
Atok Iskandar dkk. (1992). Pencak Silat. Jakarta: Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan Dirjen Dikti Dep. Pdan K.
Departemen P dan K. (1989). Tuntutan Pelajaran Olahraga Pencak Silat untuk Sekolah Dasar. Jakarta: Humas Depdikbud.
Notosoejitno. (1989). Sejarah Perkembangan Pencak silat di Indonesia. Jakarta: Humas PB IPSI.
-------------- . (2001). Gema Pencak Silat. Jakarta: Pondok Pustaka.
O’ong Maryono. (1998). Pencak Silat; Waktu Merentang. Yogyakarta.: Pustaka Pelajar.
------------- . (2003). Pencak Silat Magazine: Menggempur Vietnam Syndrom. Jakarta: PB IPSI.
Oyong Karmayuda. (2000). Pencak Silat di Olimpiade. Jakarta: Humas PB IPSI.
--------------. (2001). Prospek Pengembangan Pencak Silat di Kalangan Perguruan Tinggi ASEAN. Jakarta: Pondok Pustaka.
PB IPSI. (1992). Pencak Silat, World Championship’ 92. Jakarta.: Humas PB IPSI.
---------. (1994). Pencak Silat. Jakarta.: Humas PB IPSI.
Persilat. (1985). Keputusan Sidang Umum Pertama; Persekutuan Pencak Silat antara Bangsa. Kuala Lumpur : PESAKA.
Sukowinadi. (1989). Sejarah Pertumbuhan Pencak Silat. Yogyakarta: Per.P.I Harimurti.
Teamnas Jumpa Malaysia di Final
Jakarta, (Analisa). Tim nasional U-23 Indonesia berhasil bangkit dari tekanan mental akibat kekalahan 0-1, dari tim Malaysia, pada pertandingan terakhir penyisihan Grup A. Tibo dkk kembali mampu menampilkan terbaiknya saat berhadapan dengan tim kuat Vietnam di semi final di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (19/11). Garuda Muda menang 2-0.
Skuad asuhan Rahmad Darmawan memastikan diri menembus babak final cabang sepak bola SEA Games XXVI/2011, yang akan digelar Senin (21/11) besok.
Kemenangan ini tak pelak melambungkan optimisme publik bahwa Tibo dkk bakal mampu merebut emas cabang sepak bola SEA Games yang telah sekian lama tak pernah bisa direbut. Terakhir kali Indonesia merebut emas sepakbola di SEA Games 1991 Jakarta. Di final timnas U-23 kembal akan berhadapan dengan juara bertahan ‘Harimau Malaya’ Malaysia. Tim jiran lebih dulu memastikan diri ke final setelah mengalahkan Myanmar 1-0, di partai semi final pertama yang juga digelar di GBK.
Pada jumpa pers usai pertandingan, pelatih timnas U-23, Rahmad Darmawan mengatakan pertandingan yang baru saja dimenangkan timnya adalah sebuah pertandingan yang menarik. Dia memuji penampilan anak asuhnya.
"Hari ini anak-anak bermain sangat baik, kita memperagakan pressing football. Kami berhasil meredam agresivitas Vietnam. Corak permainan yang selalu mereka peragakan ini yang saya pelajari dari rekaman pertandingan yang mereka mainkan," kata RD sapaan akrabnya.
RD menambahkan bagaimanapun dia harus berhitung bagaimana merecovery (memulihkan) fisik pemain untuk partai final, karena anak-anak baru saja memainkan strategi bermain yang sangat menguras energi. "Ini resiko yang harus saya ambil untuk mengatasi permainan Vietnam," katanya.
Sementara itu, pelatih timnas Vietnam, Falko Gerd Gotz memuji performa tim tuan rumah. Menurutnya, ini pertandingan yang berat karena harus berhadapan dengan tim yang bermain sangat baik.
"Semula saya menginstruksikan tim untuk bermain ofensif tapi barisan pertahanan Indonesia sangat kuat. Begitu pun dalam pertarungan satu lawan satu di lapangan tengah pemain saya selalu kalah. Pemain Indonesia bermain sangat cepat, sangat sulit buat kami untuk membalas setelah ketinggalan 0-1 melalui gol tendangan bebas yang mengejutkan," beber Gotz.
Ia menilai meski pernah dikalahkan Malaysia, Indonesia tetap berpeluang menjuarai cabang sepak bola SEA Games kali ini.
Patrick membuka kemenangan Indonesia lewat tendangan bebas menit ke-60. Dengan cerdik dia lepaskan tendangan menyusur tanah, Bola meluncur deras melewati barisan ‘tembok’ Vietnam dan tak mampu dijangkau kiper Tian Ngoc.
Tibo sukses menggandakan keunggulan Indonesia, pada menit ke-88, tendangan lobnya memperdayai kiper Tian Ngoc, skor 2-0 untuk Garuda Muda. Skor bertahan hingga wasit Kim meniup peluit panjang tanda usainya pertandingan. (mp)
Para Juara di Sea Game
Jakarta (ANTARA News) - Berikut daftar negara yang meraih juara umum SEA Games sejak 1977 hingga pelaksanaan terakhir 2011 yang ditutup Wakil Presiden Boediono di Palembang, Selasa: (dalam kurung menunjukkan tuan rumah)
- 1977 (Kuala Lumpur) Indonesia
- 1979 (Jakarta) Indonesia
- 1981 (Manila) Indonesia
- 1983 (Singapura) Indonesia
- 1985 (Bangkok) Thailand
- 1987 (Jakarta) Indonesia
- 1989 (Kuala Lumpur) Indonesia
- 1991 (Manila) Indonesia
- 1993 (Singapura) Indonesia
- 1995 (Chiang Mai) Thailand
- 1997 (Jakarta) Indonesia
- 1999 (Bandar Seri Begawan) Thailand
- 2001 (Kuala Lumpur) Malaysia
- 2003 (Hanoi dan Jo Chi Minh) Vietnam
- 2005 (Manila) Filipina
- 2007 (Nakhon Ratchasima) Thailand
- 2009 (Vientiane) Laos
- 2011 (Jakarta dan Palembang) Indonesia
SEA Games 2013 akan digelar di Naypyidaw, Myanmar.
Indonesia Juara Umum Sea Game XXVI
JAKARTA—Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku bangga dengan prestasi yang ditorehkan atket-atlet Indonesia yang berlaga di ajang SEA Games 2011. Indonesia dipastikan akan menjadi juara umum, dengan raihan medali emas lebih dari 180 keping.
Posisi Indonesia tidak tergeserkan dari hari pertama hingga menjelang berakhirnya laga. Hingga menjelang penutupan SEA Games, Indonesia telah mengumpulkan 182 medali emas, diikuti Thailand 108 keping emas dan Vietnam di posisi ketiga dengan 96 keping emas.
Padahal kata SBY, sebelumnya banyak komentar-komentar negatif terkait penyelenggaraan SEA Games. Kritikan bahkan rasa pesimistis, justru datang dari berbagai komentar dalam negeri. Namun dengan memastikan juara umum, perjuangan Indonesia tidak sia-sia.
‘’Komentarnya luar biasa. Kita tidak siaplah, pasti gagal, tidak serius. Ada yang mengusulkan mundur empat bulan. Saya katakan, lebih baik jangan dilawan dengan kata-kata. Allah maha besar, menolong yang berikhtiar,’’ kata SBY dalam konfrensi pers di Cikeas, Selasa (22/11).
‘’Atlit tidak datang dari langit. Buktinya yang meraih medali lebih dari seratus. Mereka berlatih dan bahkan pernah berlatih di Batujajar untuk membuat mentalnya kuat,’’ tambah SBY memuji.
SBY pun menyambut bangga torehan prestasi para atlet yang telah berjuang di ajang olahraga terakbar se Asia Tenggara tersebut. Prestasi ini menunjukkan bahwa para atlet bukan hanya bermodalkan fisik, tapi juga mental yang kuat dan ulet.
‘’Alhamdulillah kita mengukir sejarah. Sekarang medali emas sudah 181. Nanti pasti ada berkomentar, kenapa tidak 200? Itulah dunia dan kita harus siap,’’ kata SBY lagi. (afz/jpnn)
Pelari Indonesia Sumbangkan Emas
Triyaningsih, 10.000 meter, 34 menit 52,74 detik
Triyaningsih 5000 meter putri,
Serafi Anelis Unani, 100 meter putri, 11,69 detik.
Franklin Ramses Buruni, 100 meter putra
Franklin 200 meter putra.
Rini Budiarti, halang rintang 3.000 meter.
Ridwan, lari 1500 meter putra.
Fernando Lumain, Franklin F Burumi, M Fadlin, Farrel Oktaviandi tim estafet putra 4x100m
Agus Prayogo, 5,000 meter putra
Agus Prayogo, 10,000 meter putra
Yahuza, maraton putra
Triyaningsih maraton Putri
Heru Astriyanto 400m putra
Aan Aviansyah
Hj Wilda
Rabu, 14 September 2011
Surat Nabi Muhammad: wanita Kristen menikahi muslim, tak boleh dilarang ke gereja
Sejarah yang jarang terekspos: surat Nabi Muhammad berisi perintah melindungi umat Kristen. Nabi agama Islam, Muhammad, pernah menulis surat kepada biarawan gereja Catherine Monastery. Isinya berupa perintah-perintah kepada umat muslim, salah satunya untuk wajib berperang membela umat nasrani, dan tidak boleh merusak gedung gereja.
Surat Nabi Muhammad kepada biarawan gereja ini telah dibuktikan keasliannya oleh ilmuwan sejarah, dan kini disimpan di gereja St. Catherine’s Monastery, Bukit Sinai, Mesir. Surat berjudul “Piagam Anugerah” itu diberikan Nabi Muhammad kepada seorang delegasi Kristen yang mengunjungi Nabi pada tahun 628 di Madina.
Isi surat Nabi Muhammad — terjemahan dalam bahasa Inggris (sumber dan hak cipta pada Dr. A. Zahoor and Dr. Z. Haq):
This is a message from Muhammad ibn Abdullah, as a covenant to those who adopt Christianity, near and far, we are with them.
Verily I, the servants, the helpers, and my followers defend them, because Christians are my citizens; and by Allah! I hold out against anything that displeases them.
No compulsion is to be on them.
Neither are their judges to be removed from their jobs nor their monks from their monasteries.
No one is to destroy a house of their religion, to damage it, or to carry anything from it to the Muslims’ houses.
Should anyone take any of these, he would spoil God’s covenant and disobey His Prophet. Verily, they are my allies and have my secure charter against all that they hate.
No one is to force them to travel or to oblige them to fight.
The Muslims are to fight for them.
If a female Christian is married to a Muslim, it is not to take place without her approval. She is not to be prevented from visiting her church to pray.
Their churches are to be respected. They are neither to be prevented from repairing them nor the sacredness of their covenants.
No one of the nation (Muslims) is to disobey the covenant till the Last Day (end of the world).
Terjemahan surat Nabi Muhammad dalam bahasa Indonesia
Blog Jarar Siahaan menerjemahkan isi surat Nabi Muhammad dari teks bahasa Inggris di atas ke dalam bahasa Indonesia. Catatan: Mungkin terjemahan ini tidak sempurna.
Inilah pesan dari Muhammad ibn Abdullah, sebagai perjanjian bagi pemeluk agama Kristen, dekat maupun jauh, bahwa kami mendukung mereka.
Saya, para pelayan, penolong, dan pengikut-pengikut saya membela mereka [umat Kristen], karena orang Kristen adalah penduduk saya; dan juga karena Allah! Saya akan melawan apa saja yang tidak menyenangkan mereka.
Tidak ada paksaan apa pun terhadap umat Kristen.
[Terkait butir nomor 3] Sekalipun oleh para hakim Kristen dan para biarawan Kristen, maka [mereka] akan dikeluarkan dari pekerjaan mereka dan biara mereka.
Tidak boleh siapa pun menghancurkan atau merusak tempat beribadah umat Kristen, atau mengambil barang-barang dari dalamnya ke rumah umat Islam.
Apabila ada yang mengambilnya [terkait nomor 5], maka dia merusak perjanjian Allah dan tidak taat pada rasul-Nya. Sesungguhnya orang Kristen adalah sekutu saya, dan mereka memperoleh piagam keamanan ini untuk melawan segala hal yang mereka benci.
Tidak seorang pun dapat memaksa mereka untuk bepergian atau berperang.
Umat Islam wajib bertempur untuk membela mereka.
Apabila perempuan Kristen menikah dengan lelaki Islam, maka hal itu tidak dapat dilakukan tanpa persetujuan si perempuan. Dia juga tidak dapat dilarang mengunjungi gerejanya untuk berdoa.
Gereja-gereja umat nasrani harus dihormati. Umat Kristen tidak boleh dilarang untuk memperbaiki gereja dan menjaga perjanjian-perjanjian sakral agama mereka.
Tidak ada satu orang pun dari antara bangsa-bangsa (muslim) yang boleh tidak-mematuhi perjanjian ini hingga pada Akhir Zaman.
Sumber www.jarasiahaan.com
Langganan:
Postingan (Atom)