Minggu, 25 Maret 2012

Pacar yang Hilang



Malam mulai menjelang ketika tubuh lunglaiku berbaring di atas sofa yang empuk, sendiri membuatku menatap langit-langit ruangan seluas lima kali empat meter. Terbayang kembali apa yeng telah aku tempuh selama sepuluh tahun terakhir dalam kehidupanku, kisah cinta, kehilangan, kepedihan dan kebahagiaan yang pernah aku rasakan bersama pacar yang hilang, “dimana dia sekarang, sedang apa, mungkinah ia tengah mereguk kebahagiaan bersama orang yang ia cintai?

Malam kemarin secara tak sengaja aku temukan kembali sebuah kertas surat kumal yang telah termakan oleh waktu yang jatuh dari arsip lamaku saat aku membereskan tumpukan kertas di kamarku.

Aku kenal surat itu, aku tahu isinya, dan aku tak pernah melewatkan membaca kembali surat itu, entahlah apa yang ada dibenakku saat aku menemukan kertas berwarna biru langit itu, aku selalu ingin membacanya dan terus membacanya, seperti juga saat malam kemarin kutemukan.

28 Januari 1998,
Aku yang selalu menunggu ketika kau pulang dengan segenap harapan, selalu menganyuhkan kakiku dengan cepat agar aku bisa menatap matamu yang teduh didepan rumahmu, karena kamu pernah berkata ada kenyamanan saat aku berada di depan pintu rumahmu, dan aku pernah berjanji, aku akan selalu ada di depan pintu rumahmu saat kau pulang,”

Ketika kau berikan cintamu kepadaku, aku seperti menemukan kembali sesuatu yang pernah ada dihatiku. Sejak saat itu aku selalu ingin menjadi pelabuhan ketika kau merasa sedih dan senang, ku ucapkan terimakasih atas cinta yang kau berikan kepadaku, kau datang di saat yang tepat, saat hidupku hancur berkeping dihantam sebuah penghianatan, saat tubuh lunglaiku terbalik ditelan gelombang kepedihan, mengantam karang dan mencerai beraikan semua harapanku akan hadirnya matahari pagi yang indah.


Sepenggal kisah cinta yang kita alami itu memang telah berakhir, karena kamu memang menginginkan itu, tetapi selama kakiku masih menjejak bumi yang indah ini kenangan itu tak akan pernah berakhir, tidak akan pernah hilang untuk selamanya, tidak akan pernah pudar walau jaman menggilasnya dengan kejam.


Pun ketika bumi berumur ratusan tahun, bahkan ribuan tahun, ketika jasadku terbaring kaku di pelukan bumi dan kembali bangun atas kehendakNya, kehangatan cintamu tak akan pernah lenyap walau setitik, cintamu akan selalu abadi dalam hidup dan matiku, dan itu janjiku padamu

Dari aku yang mencintaimu….


Selembar kertas kusam berwarna biru itu kembali mengingatkan kisah laluku yang sangat indah bersama pacar yang hilang, sekelumit kisah yang sebenarnya telah terangkai dalam anganku bertahun-tahun lamanya namun tertahan oleh keegoanku sendiri, terbelah oleh kemarahan sesaat yang sampai saat ini aku sesali, sampai akhirnya aku terbuang dalam keheningan yang membekukan jiwa dan ragaku.

Sepuluh tahun kenangan itu telah berlalu, saat hiruk pikuk kehidupan telah menampakan perubahan, saat jaman telah menghapusnya secara perlahan, saat kelembutan dan keteduhan tatapan matanya mulai pudar dalam bayangan ingatanku, saat senyum dan tawanya mulai sayup terdengar ditelingaku, ia kembali menampakan kelembutannya dalam mimpi-mimpiku.

Walau hanya sesaat, bayangan itu kembali mengusik kehidupanku, lambaian tangannya seolah memanggilku untuk mencumbunya, menghadirkan kembali kehangatan-kehangatan yang pernah aku berikan. Mimpi itu memaksaku mengingat semua, membuat mataku selalu ingin terpejam dan seolah memaksaku untuk mencari dan kembali padanya. Tetapi aku tak pernah bisa menemukan pacar yang hilang itu untuk sekedar meminta maaf dan mencium tangannya yang lembut.

Selamat Pagi My Diary


Selamat pagi diaryku….
Sudah lama ya aku tak mencoret-coret lembaran putihmu, pagi ini aku mau curhat banyak sama kamu, malam kemarin sama teman-teman gosipku ngomongin suami masing-masing, kamu taukan suamiku seperti apa, terkadang aku malu sama suamiku, soalnya dia beda sama para suami temanku. Bayangin deh minusnya suamiku ini, ia nggak ganteng-ganteng amat, wajahnya biasa saja.

Bukan itu saja, tidak seperti suami temenku yang selalu pergi jalan-jalan saat liburan tiba, suamiku malah ngajak nonton TV di rumah, katanya film di TV juga bagus-bagus dan nggak perlu ngeluarin biaya, karena uangnya bisa ditabung untuk masa depan anak-anak. Padahal aku ingin sekali seperti suami-suami temanku yang sering berpergian keluar kota bahkan keluar negeri untuk berlibur atau berbelanja.

Diaryku…
Kamu juga tahukan, suami aku jarang sekali menemaniku, ia lebih sering berada di kantor dan sibuk dengan pekerjaannya, kalaupun ada di rumah, ia lebih senang beristirahat dan sepertinya tak perduli dengan keadaanku yang selalu sibuk mengurus keadaan rumah. Yang menyebalkan ia jarang sekali memberiku kejutan seperti suami teman-temanku yang penuh romatisme dengan memberikan sekuntum bunga saat akhir pekan tiba.

Saat malam tiba, ia jarang sekali memelukku sekedar untuk menyatakan rasa cinta dan sayangnya padaku, paling-paling cuma kecupan di kening sambil berkata selamat tidur mama. Sementara teman-temanku selalu bercerita tentang suaminya yang selalu memeluk dengan erat, membelai rambut dan mengucapkan kata-kata cinta dan sayang saat menjelang pergi tidur, cerita yang selalu membuatku merasa iri.

Diaryku sayang….
Pagi ini sekali lagi aku merasa kesal. Betapa tidak, hari ini aku berulang tahun, tapi suamiku tercinta tak sedikitpun ingat. Sudah tiga tahun belakangan suamiku tak pernah ingat lagi akan hari spesialku, teman-teman SMU-ku saja masih mengingatnya dan selalu mengirimkan ucapan selamat. Tapi kenapa orang yang paling dekat denganku tidak sempat mengingatnya, “Sudah tak cintakah ia padaku?”

Maaaf ya diaryku sayang, hari ini aku  pergi ke rumah Selvi sahabatku untuk menumpahkan segala keluh kesahku, tentang suamiku yang tak lagi perhatian denganku. Tapi kemudian aku terkejut ketika mendapati Selvi tengah menangis dengan wajah yang lebam dibeberapa bagian karena pukulan suaminya. Padahal setahuku Selvi adalah sahabat yang paling sering bercerita tentang suaminya yang setia, yang penyayang, yang sabar, pokoknya serba lebih deh….

Tapi ternyata semuanya semu, penuh kepura-puraan dan munafik. Sahabatku itu memergoki suaminya yang tengah bercinta dengan perempuan lain di rumahnya, di kamar kesayangan, di ranjang temapt ia setiap malam memadu kasih, oh Selvi sungguh malangnya nasibmu, cerita yang selama ini kamu lontarkan ternyata tak sindah warna aslinya.

Diaryku…..
Sejak saat itu aku sadar, bahwa aku memiliki suami yang sabar tanpa kepura-puraan. Dari sekian kekurangannya ternyata ia memiliki segudang kelebihan. Ia memang sederhana dan polos tapi ia jujur, ia memang tak mempesona tetapi ia setia, ia memang tak memberi banyak pilihan, tetapi tanpa kusadari ia telah menghabiskan waktunya untuk hidupku. Membuatkan aku rumah untuk berteduh, memberikan aku ranjang empuk dan hangat untuk tempatku beristirahat. Ya Tuhan betapa bodohnya aku….

Diaryku sayang….
Ternyata selama ini aku tak pernah bersyukur memiliki suami yang demikian baik dan santun, aku terlalu banyak memikirkan hal-hal negative dari pada sisi positifnya. Buktinya malam tadi aku dikejutkan dengan hadirnya sebuah kado berwarna merah jambu di meja riasku, dan sebentuk cincin bermata berlian kudapati dalam kotak itu, sementara suamiku sudah terlelap tidur dengan dasi masih menempel dipakaiannya. Malam itu, aku benar-benar merasa tersanjung, benar-benar merasa sangat beruntung

Diaryku sayang…
Malam itu kupleuk suamiku dengan erat, kubelai rambutnya dengan kasih sayang yang teramat sangat, mengecup bibirnya dengan sejuta sayang. Dan ia terbangun, yang pertama terucap dari mulutnya adalah, “Selamat ulang tahun istriku tercinta, semoga Tuhan menganugerahimu semua yang kau inginkan,”. Aku memeluknya dengan erat, air mataku tumpah tanpa bisa kubendung, “Aku cuma ingin kau selalu bersamaku mas, tak lebih dari itu,”